Miya dan Yang adalah sepasang suami istri yang sudah menikah selama beberapa tahun. Meskipun belum dikaruniai anak tapi kehidupan pasutri ini berjalan dengan indah. Mereka juga jarang bertengkar.

Namun belakangan ini sikap Yang berubah, dia jadi cuek dan dingin terhadap Miya. Miya sendiri tidak tahu mengapa suaminya jadi seperti itu. Rasa-rasanya dia tidak melakukan hal-hal yang membuat semuanya kesal.

Miya sedih dan tidak ingin kondisi ini terjadi berlarut-larut. Suatu malam saat suaminya sudah di kasur, ia mencoba memanggil suaminya untuk berdiskusi. Miya menjulurkan tangannya ingin menoel pundak sang suami, tapi dia ragu dan menariknya kembali.




Tapi dia penasaran dan akhirnya ia kembali menjulurkan tangannya sambil berkata,”Suamiku..” tapi hal itu tidak direspon oleh Yang padahal dia belum tidur. Matanya masih terbuka tapi ia tidak mau membalikan badannya ke arah Miya.



Miya jadi kikuk dan bingung. Entah apa yang harus ia perbuat sekarang. Perasaannya bercampur aduk dan muncul pikiran-pikiran jelek dalam benaknya. Jangan-jangan suamiku punya selingkuhan!!

Keesokan paginya Yang berkata pada Miya kalau di kantor sedang sibuk jadi dia akan pulang terlambat. Lalu Yang juga menyuruhnya untuk menunggunya membantu mengemasi barang pindahan rumah.




Tapi Miya berkata kalau kopernya tidak terlalu banyak dan dia bisa membawanya sendiri. Jadi Yang fokus saja dengan pekerjaannya. Yang pun menganggukkan kepala lalu pergi ke kantor.

Sesampainya di kantor, asisten Yang masuk ke dalam ruangannya. Asisten ini adalah seorang wanita muda yang sangat cantik. Asisten tersebut bertanya,”Pa, bagaimana dengan keputusan proyek penting itu?”



Lalu Yang menjawab,”Saya belum tahu apa keputusannya. Masih ada beberapa hal yang harus saya pertimbangkan.” “Ok, tapi paling lambat besok sudah harus ada keputusannya. Kalau tidak proyek ini akan jatuh ke tangan orang lain.” lanjut si asisten.



Saat pulang, Yang mendapati kalau istrinya tidak ada di rumah. Di atas meja ruang keluarga ada sepucuk surat yang ditinggalkan oleh Miya. dalam surat itu Miya menulis kalau dia pulang ke rumah ibunya. Semua baju sudah dicuci dan dijemur lalu sudah dilipat rapi ke dalam lemari.



Lalu saat cuaca dingin jangan lupa pakai baju yang lebih tebal. Miya juga sudah menyemir semua sepatu kulit suaminya dan memasak pangsit. Kalau lapar Yang cukup menghangatkannya kembali dan siap untuk disantap.




Selain itu Miya juga berpesan agar Yang tidak lupa membawa kunci saat keluar rumah dan saat sakit perut jangan lupa minum obat yang waktu itu beli di Hongkong. Persediaan obat itu kira-kira cukup sampai setengah tahun.

Yang menangis membaca surat dari istrinya itu. Dia segera berlari menyusul Miya ke terminal. Sesampainya disana, Yang cukup pusing melihat ada begitu banyak orang. Dia melihat kesana kemari jangan sampai istrinya keburu pergi.

Akhirnya Yang menemukan Miya lalu berkata,”Miya..kamu mau pergi kemana? Apa ini yang dilakukan oleh seorang istri? Ayo pulang bersamaku.”

Miya terdiam menatap Yang dan Yang pun menghela napas panjang sambil menatap langit. “Miya, maafkan aku. Aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya padamu tapi kalau sampai proyek ini gagal kita bisa saja kehilangan rumah bahkan aku juga tidak sanggup mengembalikan uang pinjaman bank.”

Lalu jawab Miya,”Apa? Selama ini kukira kamu punya selingkuhan mangkanya nyuekin aku. Ternyata gara-gara proyek ini..Dulu saat mengucap janji pernikahan kamu masih ingat tidak? Bukankah susah sedih juga harus ditanggung bersama?”

“Kamu tahu tidak? Di dalam hatiku hal yang paling membahagiakan bukanlah seberapa besar jumlah angka di tabungan melainkan senyum bahagia yang menghisai wajahmu.” lanjutnya.

Yang sangat terharu mendengar penjelasan sang istri. Dia tidak menyangka kalau istrinya sangat setia dan mencintai dia apa adanya. Bahkan Miya berkata meskipun Yang bangkrut, dia masih bisa menghidupi keluarga ini.


Akhirnya Yang dan Miya kembali berbaikan dan pulang ke rumah bersama-sama. Hubungan mereka kembali akur seperti sedia kala. Miya juga berharap mulai sekarang masalah apapun Yang harus cerita dan didiskusikan bersama.