Angin meniup wajahku, membuat pipi yang kering menjadi lebih merah. Namun, aku tidak peduli dengan hal-hal ini, aku lebih khawatir dengan bisnisku. Aku sudah duduk dari pagi tapi satu pembeli pun belum ada.

Aku terpikir ibuku yang sedang sakit dan biayanya yang besar. Tanpa disadari, air mataku menintik. Jujur, aku sangat khawatir. Aku ingin ibuku sembuh.

Malam itu, aku menemani ibuku yang batuk semalaman, melihat wajah keriputnya yang lesu. Ibu sering ke dokter untuk mengobati penyakitnya itu, namun dokter-dokter tidak pernah mengetahui apa alasan penyakitnya.



"Tahu begini langsung ke rumah sakit besar aja. Kita pindah-pindah klinik juga gak ada yang tahu penyebab penyakit ibu, ibu bisa-bisa..." ibu tidak berani mengatakan kata "meninggal", ia takut aku cemas. Aku tahu ibu akan khawatir padaku jika ia sudah tiada.


Ayahku sudah meninggal sejak aku kecil, sehingga kami hidup berdua saja. Dulu ketika ibu masih sehat, hidup kami bebas dari masalah, beda sama sekarang ketika ibu sakit. Dalam waktu yang sebentar saja hutang sudah menumpuk. Untuk saja saudara ibu baik-baik, ada yang meminjamkan uang untuk membantu ibu.

Aku memijat punggung ibu, berharap ibu lebih enakan. "Bu, besok tidak usah kerja, ibu istirahat saja di rumah. Dokter kan bilang, ibu tidak boleh terlalu capai." kataku.



Mata ibu merah dan terlihat lelah, ia terlihat sangat lesu. "Saya tidak tahu apakah saya kuat untuk kerja besok. Ya sudahlah, ibu tidur dulu. Kamu buruan mandi lalu kerjain pr yah." Ibu pun berbaring dan menyelimuti dirinya.


Aku duduk menatap ibu yang sudah tidur lelap. Aku terus berpikir bagaimana caranya mencari uang untuk membantu ibu. Aku tiba-tiba teringat tetangga pernah mengatakan kepadaku bahwa berbisnis adalah cara cepat mencari uang. Namun, aku tidak punya modal… Hm…



Tiba-tiba, aku menemukan sebuah solusi.

Esoknya, aku ijin sakit ke sekolah. Aku berangkat ke pasar dan menaruh bangku dan sebuah papan yang bertuliskan: "Pijat, 1 kali 1000 rupiah"

Aku memilih pijat karena ibu pernah mengatakan bahwa pijatanku itu nyaman dan enak. Oleh karena itu, bisnisku mestinya bagus dong. Ibu jadi tidak perlu kerja lagi.

Tapi… tidak ada yang datang untuk minta dipijat. Dilirik saja tidak ada. Aku menghembuskan nafas, aku sudah duduk disini dari pagi, tapi tidak ada orang yang mau dipijat. Sekarang pasar sudah sepi, aku pun dengan sedih membawa papan dan bangku lalu berjalan pulang ke rumah.

Sampai di depan rumah, aku pas-pasan bertemu dengan tetangga sebelah yang sedang mencuci popok. Ia melihat papanku, seakan-akan mengerti apa yang baru saja kulakukan dan berkata, "ibumu baik-baik saja?'

Aku menggeleng-gelengkan kepala dan menjawab, "tidak nih tan, apakah ada ide. Ibu tidak ada uang untuk pergi ke dokter." Aku mengusap air mataku yang mulai mengalir dan berkata, "aku tidak ada gunanya ya, aku tidak dapat membantu ibu."



Sebenarnya aku ingin menangis sekeras-kerasnya, tapi aku menahan karena takut itu khawatir. Aku harus kuat, demi ibu. Tante tetangga menepuk punggungku dan berkata, "jangan takut, semua akan baik-baik saja. Berbisnis memang begitu, besok kamu perti lagi, pelan-pelan pasti ada pelanggan. Lagipula, pijatan kamu kan nyaman, gak ada yang bisa kalahin deh." Aku hanya bisa tersenyum.

Hari kedua, aku pergi lagi ke pasar. Baru keluar rumah, aku sudah bertemu dengan tante tetanggaku. Sepertinya dia sedang menungguku. "Hari ini pasti akan lebih baik. Pijat yang serius yah" katanya sambil menepuk punggungku. Aku mengganguk dan melambaikan tanganku kepadanya.

Setiba di pasar, aku pergi ke tempat aku duduk kemarin. Hari ini, ada beberapa pelanggan yang duduk dan membiarkan aku pijat. Ada juga yang memujiku bahwa aku pintar memijat. Ada juga yang memberiku tips lebih, bahkan sampai sebesar 100.000 rupiah. Sangking kagetnya, aku langsung menolaknya, namun pelanggan tersebut malah bergegas pergi.



Tidak terasa, hari sudah sore. Tanganku terasa pegal-pegal, bahkan susah untuk diangkat. Aku pun menghitung uang yang ku dapat hari ini. Wah… hampir 300.000 rupiah! Yang bener? Aku menghitung lagi karena tidak percaya dengan jumlah uang ditanganku. Ternyata memang benar hampir 300.000 rupiah!

Aku pulang rumah dengan gembira. "Bu! Kita ada uang! Nih ada segini." aku menunjukkan ibu uang yang ku dapat. "Besok ke dokter yah! Aku akan menjaga ibu, aku akan terus mencari uang dengan memijat. Aku ingin ibu cepat-cepat sembuh."



Ibuku tampak terkejut, ia menatapku dan berkata, "kok kamu gak sekolah? Terus kok bisa dapat uang sebanyak ini?" Ibu terbatuk-batuk dan mengambil tisu untuk mengelap dahaknya. Aku segera menuangkan teh untuknya sambil menceritakan pengalamanku memijat di pasar. "Tenang saja bu, sekolah pasti akan aku kejar nanti ketika ibu sembuh."

Ibu melihat punggungku dan menarik sebuah kertas. Disana tertulis: Dia adalah anak yang baik dan sedang mencari uang untuk ibunya tunggalnya yang sedang sakit. Tolong bantu dia. -Tetangga.

Wah, ternyata tetangga diam-diam membantuku. Ibu menangis terharu dan memelukku. "Terima kasih nak. Ibu pasti akan sembuh!"

10 tahun berlalu, aku menyelesaikan SMA dengan nilai yang bagus. Sekarang aku sedang mempersiapkan ulangan masuk kuliahku.

Ibuku? Ibuku akhirnya sehat. Aku senang sekali, semoga hidupku baik-baik saja.

Sumber: BH