
Bila ternyata dokter mengatakan bahwa penyakit plagiocephaly yang diderita memerlukan langkah korektif, maka orang tua harus mulai mencari helm korektif yang sesuai, karena kesempatan terakhir untuk langkah korektif ini adalah sebelum bayi menginjak usia dua tahun. Ketika mereka bertambah tua, tengkorak mereka akan mengeras dan tidak dapat diubah lagi.

Paula Strawn, pelukis yang berbasis di Washington, Amerika Serikat, kebetulan memiliki kesempatan melukis helm korektif untuk bayi penderita plagiocephaly. Paula menyetujui permintaan tersebut karena orang yang memintanya adalah guru sekolah dasar yang mengajar kedua anaknya. Ditambah lagi, guru tersebut luar biasa sangat baik. Saat itu, sang guru yang telah menjadi nenek, datang menemui Paula dengan membawa cucu perempuannya yang mengenakan helm aneh. Sang guru kemudian meminta Paula untuk melukis helm tersebut.
Tapi tak disangka, Paula malah melakukan lebih dari itu. Dia berjanji untuk menolong lebih banyak bayi penderita plagiocephaly agar ketika memakai helm korektif tersebut, ada perasaan menyenangkan dan juga keren.

Begitulah Paula memulai usahanya itu. Minggu-minggu pertama, Paula menerima beberapa pesanan. Namun setelah itu jumlah pesanannya mulai meningkat pesat. Bahkan, Paula hingga membuat sebuah situs dan akun di Facebook terkait usahanya itu.

Namun, seiring dengan semakin banyaknya permintaa, Paula akhirnya memutuskan untuk membuka studionya sendiri, agar dia bisa melayani sepenuh waktu. Sejauh ini, dia telah menyelesaikan lebih dari 2.800 helm.
Selain itu, hasil lukisan helm Paula yang sudah banyak beredar juga kemudian dilirik oleh perusahaan profesional yang membuat helm korektif.

Paula mengatakan bahwa dia bersyukur bisa memiliki kesempatan ini. Tampilan imut para bayi setelah mengenakan helm yang telah dicat ini membuatnya merasa bahwa semua kerja kerasnya tidak sia-sia.
Suatu ketika, ada sepasang orang tua yang membawa anak mereka untuk mecoba helm korektif. Anak-anak yang menggemaskan itu harus memakai helm aneh dan jelek karena penyakit plagiocephaly. Pada satu titik, mereka merasa tertekan dan berkecil hati. Mereka tidak ingin anak-anak mereka dianggap aneh.
Namun, ketika anaknya memakai helm yang dilukis dengan desain kartun imut, mata mereka langsung cerah dan tersenyum, sementara orang tua mereka terharu hingga menangis. Paula mengatakan bahwa dia merasa lega melihat hasil karyanya tersebut bisa berperan dalam membantu menyembuhkan hati mereka yang terluka.
Sumber: theepochtimes