Nenek Sumiyem mulai berjualan setiap subuh. Dirinya mendorong becak bersama sang suami. Suami Nenek Sumiyem aslinya adalah seorang pengayuh becak. Namun, akhir - akhir ini beliau tidak bisa langi menarik becak karena kaki tuanya sudah tidak mampu untuk mengayuh pedal - pedal becak tersebut. Kini sang suami hanya bisa menemani nenek Sumiyem berjualan buah. Untuk mengangkut buah terebut pun akhirnya mereka berdua harus mendorong becak itu dari rumahnya yang cukup jauh.
Tim reality show menyamar menjadi mahasiswa yang berdalih melakukan pengambilan data. Nenek Sumiyem dengan ramah menyambut mereka dan menceritakan kesehariannya. Hingga, tim yang lain datang. Berpura - pura sibuk sendiri dengan mengendarai becak. Tim yang berperan sebagai pengendara becak tertunduk lesu. Karena ada orang tidak bertanggung jawab yang tidak membayar jasanya. Orang itu malah lari begitu saja. Dengan sifatnya yang murah hati, Nenek Sumiyem memberikan satu kantung jeruk. Sungguh perbuatan yang mulia.

Sembari melanjutkan wawancara, ada satu orang yang berperan sebagai pengemis. Dirinya mengajak Nenek Sumiyem untuk mengemis karena hasilnya sungguh besar. Tidak usah berjualan lagi. Cukup mengandalkan belas kasihan orang sekitar. Dengan tegas Nenek Sumiyem menolak ajakan orang itu. Nenek Sumiyem beralasan selama dirinya mampu. Untuk apa mengemis. Orang yang mengajak Nenek Sumiyem mengemis itupun pergi. Kini datang lagi seorang wanita yang datang bersama tukang becak tadi. Dirinya berkata kehilangan dompet dan menuduh Nenek Sumiyem mengambil dompet miliknya dan bekerja sama dengan tukang becak yang diberikan buah tadi. Dengan air mata terurai, Nenek Sumiyem mencoba menjelaskan bahwasanya dirinya tidak tahu apa - apa tentang dompet dari sang wanita tersebut. Hingga tukang becak tadi langsung datang dan memberikan dompet wanita itu. Wanita itu pun pergi.
Siapa sangka, tukang becak itu adalah bagian dari tim reality show. Dirinya memberikan sejumlah uang tunai karena Nenek Sumiyem sudah menolak untuk menjadi pengemis dan teguh pada pendiriannya. Tim reality show kemudian mengajak Nenek Sumiyem untuk berbuka puasa bersama karena memang saat itu adalah Bulan Ramadhan. Dengan senang, Nenek Sumiyem bersama suaminya menikmati makanan yang disajikan. Karena, pada hari biasa mereka biasa membagi makanannya satu untuk berdua demi menghemat pengeluaran.
Hingga akhirnya mereka kembali ke rumahnya. Di rumah yang bisa dibilang kecil ini, mereka memiliki mimpi untuk membuka warung kecil - kecilan sendiri. Maka dari itu, tim dari reality show memberikan beberapa sembako dan satu buah etalase beserta dengan barang - barang yang bisa dijual untuk merintis warung kelontong mereka. Itu dia, setiap pengorbanan dan hati ikhlas tentunya akan membuahkan hasil.