Ketika masih sekolah dasar, keluargaku pernah pergi bermain ke taman bermain air bersama dengan keluarga tetangga, yang juga memiliki seorang anak kecil, sebut saja namanya Tani.
Aku dan Tani tidak bisa berenang tapi kami tetap memilih untuk masuk ke kolam renang. Ketika itu, kedua orangtua kami sedang sibuk berbincang-bincang dan tidak memperhatikan kami. Akhirnya, ketika kami hampir tenggelam dan seorang penjaga kolam menolong kami, barulah mereka panik dan datang mendatangi kami.

Kalimat pertama yang muncul dari ibuku adalah: "Barusan mama bilang jangan kemana-mana kan?! Lihat, sekarang jadi begini. Kalau tenggelam terus meninggal gimana?!"
Mendengar ibu mengatakan hal tersebut, aku pun menangis dan hatiku terasa tercabik-cabik.
Di lain sisi, ibu Tani berkata kepada Tani: "Wah, putriku sudah berani nyemplung ke air, hebat!" Tani dan ibunya malah tertawa bersama.
Hari itu, Tani berhasil belajar bernapas di dalam air dan latihan agar bisa berenang, sedangkan aku tidak berani lagi untuk nyemplung dan berenang.
Begitulah aku tumbuh hingga dewasa…
Dari kecil hingga menikah, aku selalu menjadi gadis baik, yang penurut dan tidak berani mengeluarkan pendapat, karena takut dimarahi oleh orangtua dan guru.
Sedangkan tetanggaku, Tani tumbuh menjadi seorang gadis yang percaya diri dan optimis.
1. Menyalahkan adalah pendidikan yang tidak akan membuat anak berkembang
Ya, kata-kata orangtua akan selalu diingat oleh anaknya, seperti "Dibilang jangan manjat, masih aja manjat!", "Hati-hatilah, kalau hati-hati kan gak bakal jatuh", "Begini saja kok gak bisa!"
Kata-kata seperti inilah yang membuat anak menjadi merasa buruk dan bersalah. Teguran yang menyalahkan tidak akan membangun anak menjadi lebih baik, tapi malah membuat harga dirinya tersakiti. Dalam menghadapi hal ini, banyak anak yang akan memilih mundur dan tidak berani, daripada mengambil inisiatif untuk mengatasi masalah yang ada. Seiring berjalannya waktu, kepribadian anak yang negatif akan terbentuk dan tidak bisa diubah.

2. Sifat positif dan negatif anak muncul sejak ia kecil
Anak-anak yang biasanya sering disalahkan, apalagi oleh orangtua yang mereka hormati, akan membuat sudut pandang mereka menjadi negatif.
Anak yang negatif, akan merasa takut bermain basket, ia berpikir "Aku tidak bisa bermain basket".
Anak yang negatif, ketika ia ada orang yang tidak mau berteman dengannya, ia akan berpikir "Aku jelek, jadi ia tidak mau bermain denganku".
Anak yang negatif, ketika ia mengacungkan tangan,tapi guru tidak memanggil namanya, maka ia akan berpikir "guru tidak suka denganku".
Sikap dan sifat yang negatif seperti ini, akan membuat hati anak menjadi tertutup dan hitam.
Bagaimana membuat anak bersikap positif?
1. Mendorong anak memiliki pemikiran yang positif.
Ada satu contoh yang sederhana, yaitu tentang kisah "setengah gelas air".
Orangtua positif akan berkata "Kita masih ada setengah gelas air".
Orangtua negatif akan berkata "Kita hanya punya setengah gelas air yang tersisa".
Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Ketika anak melakukan kesalahan, jangan langsung memarahinya. Sebaiknya, biarkan ia tahu mana yang benar dan berikan penjelasan kenapa ia tidak boleh melakukannya.
2. Berbicara dengan nada tinggi dan cepat tidak benar
Kata-kata yang sama, jika beda nada, maka akan menghasilkan arti yang berbeda. Gunakan nada yang cenderung rendah dan lembut. Pertama, puji anak ketika ia melakukan hal yang benar. Kemudian, temukan waktu yang tepat untuk memberitahu kesalahan mereka.

3. Orangtua harus memberikan contoh yang positif
Kepribadian anak adalah hasil dari menirukan orangtua mereka. Jika orangtua sering mengomel dan bersikap sinis, maka anak secara tidak sadar akan menirukan kebiasaan tersebut.
Alasan anak berbohong, adalah karena ia takut, tidak ingin dimarahi dan dihukum oleh orangtua.
Pada dasarnya, kepribadian anak tidak terbentuk oleh "satu kalimat" saja, tapi berdasarkan banyak kejadian di dalam hidupnya ketika kecil.
Yuk share artikel ini ke teman-temanmu!
Sumber: Womenclub