Cerita ini berasal dari sepasang suami istri yang sudah menikah selama 20 tahun.

Sebelumnya, ada sebuah pertanyaan untuk teman-teman. Apakah kamu lebih memilih sibuk dengan pekerjaan daripada menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga? Mungkin kalian semua akan menjawab tidak, namun pada kenyataannya kita suka lupa waktu dan terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga lupa dengan keluarga sendiri. Segeralah perbaiki kebiasaan buruk ini, dan luangkan lebih banyak waktu bersama orang-orang yang kita cintai agar kita tidak menyesal nantinya.


Tanpa terasa, aku sudah menjalin mahligai rumah tangga bersama istri selama 20 tahun. Mulai dari masa pacaran hingga akhirnya menikah dan sekarang memiliki cucu, aku dan istri telah menghadapi berbagai macam pasang surut dalam kehidupan pernikahan bersama-sama.

Sampai anak kami dewasa dan akhirnya memiliki keluarga sendiri, istriku mulai hidup dengan santai layaknya orang tua pada umumnya. Ia juga mulai melepaskan beberapa hal yang selama ini selalu ia kerjakan seorang diri. Aku pun jadi memiliki waktu untuk berkumpul bersama rekan-rekan kerja, bermain golf, membantu istriku melakukan pekerjaan rumah, dan berbagai macam hal lainnya. Melihat anak tumbuh dewasa adalah kebanggaan dan pencapaian terbesar orang tua, dan setelah mereka dewasa, kehidupan orang tua jadi lebih santai.

Suatu hari, istriku tiba-tiba berkata,"Aku mencintaimu, tapi aku tahu ada orang lain yang juga begitu mencintaimu." Awalnya aku kaget, namun pelan-pelan aku menyadari kalau orang yang dimaksud adalah ibuku yang merupakan seorang janda. Aku tidak tinggal bersama dan sudah lama ayahku meninggalkannya, ia pasti hidup sangat kesepian. Istriku pun menyuruhku untuk menelepon dan mengajak pergi 'kencan'. Begitu ibuku mengangkat telepon, ia terdengar begitu cemas dan bertanya,"Ada apa? Apakah kamu baik-baik saja?"

Nampaknya aku sudah terlalu lama tidak meneleponnya. Aku memang jarang menelepon untuk sekedar menanyakan kabar atau menceritakan hal-hal menyenangkan yang aku alami, oleh sebab itu begitu aku tiba-tiba meneleponnya, ia merasa khawatir kalau-kalau aku mengalami kejadian buruk. Aku pun menjawab,"Tidak, aku hanya ingin bertanya apakah mama ada waktu hari Jumat ini? Setelah pulang kerja, aku akan menjemputmu dan kita akan makan bersama." Dia berpikir sejenak dan kemudian mengiyakan ajakkanku ini.



Hari Jumat saat aku hendak menjemputnya, tiba-tiba aku merasa begitu gugup. Sesampainya di rumah ibuku, aku melihat bahwa ia juga tampak gugup dengan kencan ini. Begitu melihat kedatanganku, ia langsung tersenyum nampak begitu bahagia. Sesampainya di mobil ia langsung berkata dengan semangat,"Aku bilang pada teman-teman kalau hari ini anak laki-lakiku mengajakku kencan. Mereka sangat terkejut dan tidak sabar ingin tahu apa saja yang kita lakukan hari ini."

Aku pun memilih sebuah restoran khas rumahan, yang walaupun terlihat sederhana namun benar-benar membuat kita merasakan kehangatan rumah sendiri. Saat hendak masuk ke restoran, ibu merangkul tanganku layaknya sedang berjalan di karpet merah, sangat elegan. Saat duduk di meja makan, aku langsung mengambil menu dan bertanya padanya apa makanan yang ingin dia pesan, dan aku mendapati dirinya selalu menatapku dengan penuh senyum, lalu ia berkata,"Dulu, akulah yang membacakan menu untukmu." Aku kemudian menjawab,"Sekarang aku sudah dewasa, sudah sewajarnya gantian aku yang membacakan menu untukmu."

Sambil makan, kami juga berbincang-bincang santai, menurutku tidak ada hal yang spesial dari kencan ini. Selain itu, kami juga tidak jadi menonton film karena sudah terlalu larut, dan akhirnya ibu memutuskan untuk lebih baik pulang saja. Saat aku mengantarnya pulang, ibu berkata,"Mama ingin kencan lagi sama kamu, tapi yang berikutnya akulah yang akan mentraktirmu makan dan nonton film." Aku pun mengiyakan ajakkannya itu.



Begitu sampai di rumah, istriku langsung menanyakan bagaimana kencan kami. Aku mengatakan padanya kalau kencan berjalan lancar, namun aku begitu bingung, mengapa ia bisa tiba-tiba meminta untuk mengajak ibuku kencan? Istriku lalu menjawab,"Sebelum saya menikah, aku hanyalah gadis yang sangat mendambakan cinta. Setelah menikah, saya mulai mengerti kebiasaan hidupmu, tidak hanya gaya hidup, tapi juga beberapa nilai kehidupan dan konflik yang bisa saja muncul. Saat memiliki anak, kita mempunyai saran dan pendapat yang berbeda soal mendidik anak, tapi saya yakin kalau kita mempunyai tujuan yang sama, yaitu memberikan yang terbaik untuk anak. Menurut saya inilah yang terpenting dalam pernikahan. Kita mempunyai kesamaan, sama-sama mencintai anak, sama-sama mendidik dan menjaganya. Ada orang yang selalu mendampingi, selalu mendukung, dan sama-sama menjadi manusia yang lebih baik lagi adalah kebahagiaan terbesar bagi setiap wanita di muka bumi ini."



Selain itu, istriku juga mengatakan,"Kelak, anakku akan pergi dari rumah ini, aku tidak akan bisa lagi mendidiknya. Aku sadar, ada satu titik di mana anak tidak membutuhkan perlindungan dari ibunya lagi. Namun, aku tidak akan bersedih, karena aku tahu aku masih memilikimu sebagai teman hidup dan menjalani sisa kehidupanku. Sedangkan ibumu, dalam hidupnya yang ia miliki hanyalah kamu seorang." Mendengar jawaban ini membuat aku mengerti dan sadar kalau selama ini aku melupakan ibuku. Memang, aku sangat peduli apakah dia makan enak, tidur nyaman, dan lainnya. Setiap bulan, aku selalu rutin mengiriminya uang agar ia bisa membeli apa saja yang ia mau. Namun, aku salah! Uang tidak membuat hidup ibuku terlepas dari rasa kesepian.

Beberapa hari berikutnya, ibuku meninggal karena serangan jantung. Hal ini terjadi begitu tiba-tiba dan aku belum sempat menebus kesalahanku padanya. Pada saat pemakaman, ibuku memakai mantel yang ia kenakan pada saat berkencan denganku. Saat itu aku baru sadar kalau mantel itu adalah hadiah pernikahan terakhir yang ayah berikan padanya.

Selang beberapa hari, aku menerima sebuah surat yang di dalamnya bertuliskan:

Aku sudah memesan tempat untuk 2 orang, 1 untukmu dan 1 lagi untuk istrimu. Kamu tidak akan pernah tahu betapa pentingnya malam itu untukku. Luangkanlah lebih banyak waktu untuk istrimu, berikan dia kejutan, dan buat ia bahagia.

-Ibu yang akan selalu mencitaimu.



Membaca surat peninggalan dari ibuku ini membuatku mengerti betapa pentingnya meluangkan waktu untuk orang yang kita cintai. Inilah bentuk cinta dan kasih sayang yang sebenarnya. Dalam kehidupan manusia, tidak ada yang lebih penting dari keluarga.



Teman-teman luangkanlah waktu untuk keluarga dan orang-orang yang kamu cintai. Mungkin hal ini terlihat sederhana, tapi hal ini justru begitu berarti dan penting untuk orang lain. Habiskan waktu lebih banyak bersama keluarga, agar kelak tidak ada rasa penyesalan yang menyelimuti.



Sumber: Lookforward