
Asisten rumah tangga Filipina yang inspirasional ini, seperti ribuan asisten rumah tangga Filipina asing di Hong Kong, memiliki tingkat pendidikan rendah, penampilan biasa, dan latar belakang keluarga yang miskin. Kehidupan sehari-harinya adalah menjaga anak-anak dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Tapi suatu hari hidup dia mulai berubah karena mendaki gunung.
Dari biasa hingga luar biasa, Lahir di Filipina, keluarga Liza adalah keluarga yang. Dia bahkan tidak bersekolah, dan sejak kecil sudah bekerja.
Pada tahun 1996, dia datang ke Hong Kong pada usia 24 dan bekerja sebagai asisten rumah tangga Filipina dengan gaji 3.000 dolar Hong Kong per bulan (sekitar 4 juta rupiah).
Dia menjadi satu-satunya sumber pendapatan di keluarganya.
Liza menyetrika rumah majikannya

Saat mengingat masa lalunya, Liza berkata, "Pada saat itu, saya seperti handuk yang telah diperas." Dia tidak memiliki apa-apa pada saat itu. Hong Kong, surga belanja, pusat hiburan, namun dia tidak dapat menikmati apapun disana.
Satu-satunya kesempatan untuk pergi keluar adalah satu kali seminggu saat libur.
Dia akan membawa sebotol air dan dua potong roti, berkumpul dengan teman-teman setanah airnya di Central Plaza.
Duduk di jalan, dia hanya melihat kaki-kaki orang yang datang dan pergi, bahkan malu menatap mata orang-orang.Inilah sebabnya, ketika dia mulai mendaki gunung, berdiri di puncak, dan tidak akan pernah berhenti.
Pendakiannya pertama kali adalah sebuah kebetulan, saat itu secara kebetulan Liza melihat buku di perpustakaan tentang hiking di Hong Kong. Dia mencoba mengikuti rute, mendaki puncak gunung, dan langsung terkejut melihat indahnya pemandangan.
Melihat ke bawah dari ketinggian, Hong Kong begitu indah dan terlihat sangat berbeda dari yang dilihat dari bawah. Dia-pun jatuh cinta pada pendakian gunung, setiap akhir pekan, ia tidak lagi pergi ke central plaza. Ia membawa sebotol air dan dua buah pisang dan pegi mendaki gunung.
Setelah dia mendaki semua gunung di Hong Kong, gunung biasa tidak bisa memuaskannya. Dia ingin pergi ke luar negeri dan mendaki gunung yang lebih tinggi. Namun, "Dari mana uang itu berasal?" Dia bertanya pada tangannya sendiri yang kosong.
Mendaki gunung adalah olahraga yang sangat mahal, sepasang sepatu gunung profesional, tas fungsional yang tahan hujan dan jaket profesional yang tahan angin, harganya mencapai puluhan juta.
Sementara Liza datang ke Hong Kong selama enam tahun, gajinya digunakan untuk memberi nafkah keluarga di Filipina. Tapi kali ini berbeda, untuk terus mendaki, dia butuh uang.
"Pada saat itu saya bermimpi bisa melakukan sesuatu untuk diri saya sendiri." Untuk pertama kalinya, Liza ingin hidup untuk dirinya sendiri. Dia mempertimbangkannya untuk waktu yang lama sebelum akhirnya berani menelepon orangtuanya dan mengatakan bahwa dia tidak akan mengirim uangnya lagi kecuali eluarganya memiliki kesulitan khusus.
Tindakan "egois" ini menyebabkan orang tuanya marah besar. Ia sempat tidak bisa tidur karena menyalahkan dirinya sendiri. Namun, akhirnya impian dia kembali membara dan ia memutuskan untuk hidup untuk dirinya sendiri. Upah setiap bulan, perlahan ditabung, dan akhirnya bisa membeli beberapa peralatan mendaki gunung.
Dia juga menyiapkan beberapa biaya perjalanan, dan mulai berjalan perlahan-lahan:
Thailand, Vietnam, Singapura, Danxia Mountain di Provinsi Guangdong, Gunung Kinabalu di Malaysia 4000m, Gunung Hida Jepang dan Gunung Kilimanjaro di Afrika ......
Dan akhirnya, impian terakhirnya, Himalaya. Dari 1000 meter sampai 3000 meter sampai 5000 meter, Liza telah mendaki satu demi satu puncak selama lebih dari satu dekade,
Dari orang awam yang semula membawa sebotol air putih dan dua pisang untuk mendaki, menjadi seorang pendaki profesional. Pada 2017, dia akhirnya menaiki puncak pertama Afrika, Kilimanjaro (5895 meter), mimpinya mendaki Himalaya semakin dekat.
Ketika Liza akhirnya mencapai impiannya mendaki Himalaya, dia mengalami kegagalan pertamanya.
Dalam perjalanan ke gunung Everest, Liza untuk pertama kalinya melihat puncak Everest Pada bulan Mei 2015, Liza tiba di puncak puncak Himalaya "Imja Tse" debfab menghabiskan lebih dari sepuluh jam. Saat dia naik ke puncak, dia mulai merasa tubuhnya tidak beres.
Puncaknya tertutup salju, dia bergantung pada tali pendakian, angin yang kencang terus menghembus tubuhnya. Dia mendapati tubuhnya berkeringat, pakaiannya dibasahi oleh keringat, giginya terus bergetar selama beberapa menit, dan dia mulai bergidik. "Yang ia pakai adalah rompi murah, keringatnya tidak dapat mengalir keluar dengan cepat."
Dia hampir beku, tidak bisa bergerak, tidak bisa bernapas dan harus berhenti di ketinggian 5900 meter. Tak jauh dari puncak, dia berbalik dan berjalan turun selangkah demi selangkah, hampir putus asa menangis.
Untuk perjalanan ke Himalaya ini, dia bekerja dari tahun demi tahun, selain menghemat semua gaji, satu-satunya hari libur di setiap minggu harus ia gunakan untuk bekerkerja, ia melakukan hal ini hingga 2 tahun. Untuk melatih kemampuan mendaki gunung, setiap hari setelah lepas kerja, dia juga membawa barang seberat 15 pound, dan naik turun tangga di sebuah bangunan bertingkat 21.
Ditambah 45 menit latihan beban tiga kali seminggu, dari waktu ke waktu. Liza membawa bantalan berat di gedung 21 lantai yang menjulang tinggi Menghabiskan dua tahun, menyiapkan uang dan fisik, tapi gagal karena rompi murah? Liza tidak puas. "Tidak apa-apa, saya harus pergi lagi, gunung selalu ada!"
Untuk mengingat tujuan ini, dia menato Himalaya di pergelangan tangannya. "Ini adalah puncak Imja Tse," dia menunjuk ke ujung sebuah gunung di sebelah kiri tato, di mana dia telah gagal.
Dia menunjuk ke tato lagi: "Lain kali, saya akan berdiri di sini di puncak - Gunung Everest."
"Dan," katanya, "lain kali aku akan membeli rompi yang bagus!" Jka kalian ingin membantu Saya, silahkan donasikan uang kalian ke badan-badan amal! Selama lebih dari sepuluh tahun, Liza telah banyak bepergian, bertemu dengan pendaki yang tak terhitung jumlahnya, dan dia adalah satu-satunya orang Filipina dan satu-satunya asisten rumah tangga di sana.
Liza selalu menjadi satu-satunya asisten rumah tangga Filipina di kumpulan pendaki.
Pada awal mendaki gunung, dia diperkenalkan oleh majikannya untuk bergabung dengan komunitas pendaki gunung di Hong Kong. Dia menemukan bahwa orang-orang di dalamnya adalah para pengusaha dan para profesor. Dia sangat takut ditanya tentang pekerjaannya.
Namun, perlahan, dia akan berinisiatif mengenalkannya pada orang-orang yang dia temui. Bila pihak lain tidak tahu bagaimana harus menanggapi, dia akan tersenyum, "asisten rumah tangga juga bisa bepergian dan asisten rumah tangga juga merupakan pekerjaan yang layak!"
Liza tidak hanya mendaki gunung, tapi juga berpartisipasi dalam kelompok perahu. Perlahan, semakin banyak orang yang tahu tentang asisten rumah tangga Filipina yang hobi mendaki gunung.
Ada yang mengirimkan peralatan mendaki gunung untuknya, ada juga mengundangnya ke Ted untuk berbicara, ada yang memberinya sebuah film dokumenter, dan beberapa media mulai meliputnya.
Liza diundang ke Ted untuk menceritakan ceritanya Namun, ketika ditanya apakah dia memerlukan bantuan, yang ia pikirkan adalah teman-teman seperjuangannya di Hong kong yang bekerja sebagai asisten rumah tangga, "jika kalian ingin membantu Saya, silahkan donasikan uang kalian ke badan-badan amal!"
Aa lebih dari 300.000 asisten rumah tangga di Hong Kong. Upah yang dikirim kembali oleh pekerja asing di negara ini tidak hanya memberi nafkah keluarga mereka sendiri tetapi juga sangat berkontribusi terhadap negara mereka yang belum berkembang.
Pada tahun 2016, pengiriman uang ke luar negeri dari pekerja luar negeri di Filipina berjumlah 26,9 miliar dolar AS, terhitung 8,1% dari total pendapatan nasional. Namun, seperti halnya Liza, tampaknya hanya ada tempat kerja dan central plaza dalam kehidupan mereka.
Liza berharap agar para saudara-saudaranya ini juga memiliki hak untuk mewujudkan impian mereka. Dia bergabung dengan badan amal untuk asisten rumah tangga dan menjadi relawan disana.
Dia mulai mengerti bagaimana menggunakan kemampuannya untuk membantu saudara-saudaranya.
Pada tahun 2017, saat menaiki puncak Kilimanjaro, puncak tertinggi di Afrika, dia mengambil spanduk yang telah ia siapkan dan berfoto untuk mengumpulkan uang bagi badan amal tersebut.
Berpatisipasi dalam badan amal, sama seperti pertama kali ia mendaki gunung. Ia melihat dunia yang berbeda dan dirinya yang berbeda. Saya melihat diri saya bukan sebagai asisten rumah tangga, ini hanyalah sebuah pekerjaan, saya melihat diri saya sebagai wanita yang sangat ingin bertahan dan mendapatkan uang." Salut banget deh sama Liza yang baik hati ini!
sumber: coco