Sejak kecil Ibu selalu memperhatikan tumbuh kembang anaknya. Ibu juga selalu memberikan gizi terbaik untuk mempersiapkan anaknya menjadi pemimpin masa depan. Selain itu tentunya ia juga memberikan support dan meningkatkan percaya diri, meskipun dengan cara yang tak anaknya ketahui. Seorang ibu telah mengajarkan banyak hal kepada anaknya, mulai dari kasih sayang dan pengorbanan yang benar-benar luar biasa. Ia mengandung, merawat dengan penuh pengorbanan dan kasih sayang yang tulus tanpa pamrih. Tugasnya dalam mengasuh membutuhkan kesabaran dan proses yang panjang. Ibu selalu ada dalam setiap momen kesuksesan anaknya, ia rela mengorbankan segalanya untuk sang anak. Terkadang juga ia selalu menguatkan walaupun anaknya sendiri merasa tidak yakin.



Nah dari penjelasan di atas sudah begitu nampak, bahwa ibu hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Seperti sebuah kisah yang akan diceritakan ini tentang “aku adalah ibu atau sebuah kesalahan”. Ceritanya sederhana namun bermakna, seperti apa yuk simak dibawah ini:

“Saat anakku ikut serta dalam turnamen bola hari itu, entah kenapa hatiku begitu merasa bersalah. Apakah aku adalah seorang ibu yang salah? Melihatnya yang tidak bisa bermain bola aku begitu sedih bahkan untuk menendang saja anakku keliru…



‘Pak pelatih bagaimana dengan anakku M?’ tanyaku, dan ia menjawab

‘Tekad M sangat kuat, namun kemampuan dasarnya tidak begitu bagus!. Dia hampir tak bisa menyundul bola, jadi mari kita lihat perkembangannya beberapa hari kedepan’



Saat sudah di rumah aku tau, anakku begitu sedih karena ia tak mampu menyundul bola. Aku sangat mengerti dan bisa membaca pikirannya.



‘Ibu bicara dengan pelatihmu hari ini, ia bilang kamu sudah berusaha sangat keras. Sebelumnya kamu tidak bisa menyundul bola sama sekali, tapi sekarang kamu hampir bisa melakukannya. Cobalah lagi sedikit lebih keras, hanya sedikit lagi saja sudah cukup!’

Sejak saat itu ia berusaha lebih keras, meskipun hari itu aku baru saja berbohong. Namun ternyata itu belum berhasil, tetap saja ia paling lambat, terjatuh dan gagal di lapangan.



‘Aku tidak bisa menyusul teman-temanku’ ucapnya. Saat aku mendengar ucapannya aku mengikatkan sepatu dan mengatakan ‘larilah dan cukup kejar 1 orang didepanmu, itu sudah cukup’.



Setelah aku mengatakan kalimat itu, ia berlari menyusul temannya dengan kaki terluka karena terjatuh. Aku menyakitinya...tapi setelah haridimana ia berhasil mengejar temannya ia setidaknya menjadi lebih kuat.



Dihari lain saat turnamen, ia berusaha sekuat tenaga, dan terus mengingat ‘cukup lakukan yang terbaik meskipun sedikit’. Namun ternyata dari sedikit hal itu membuatnya meraih apa yang ia dambakan. Usahanya benar-benar tak sia-sia hanya dengan sedikit sentuhan. Aku berpikir bahwa…

‘mungkin aku bukan ibu yang terbaik, karena aku tak ingin anakku selalu menjadi juara 1. Aku hanya ingin ia memenangkan dirinya sendiri...setiap hari’




Sumber: Youtube Gift Of Life