Kisah ini adalah kisah seorang suami yang begitu menghargai perjuangan istrinya, merupakan kisah pengalaman dari seorang bidan yang sudah bekerja bertahun-tahun.
Suasana di klinik bidan kebanyakan adalah tangis haru dari orang tua yang menyambut kelahiran anak. Bagi bidan yang bekerja di sana, melihat perjuangan istri dan suami, ibu dan anak merupakan hal-hal yang biasa.

Tetapi kisah kali ini benar-benar spesial, sampai-sampai bidan ini mau membagikan pengalamannya ini ke media.
Ada seorang istri yang berumur 20 tahunan melahirkan anak pertamanya. Karena tidak punya pengalaman, saat memasuki ruang melahirkan, tangannya memegang erat suami tak dilepas.
Saat melahirkan pun karena terlalu gugup, masa melahirkan dijalani dengan sulit.

Sebagai seorang bidan, sudah lazim sekali melihat proses kelahiran yang dialami para ibu. Yang pastinya, proses kelahiran itu sangat sakit dan penuh derita.
Tapi kebanyakan setelah melahirkan, sebagian besar orang tua baru bila ditanya , apakah mau melahirkan yang kedua lagi? Kebanyakan mereka akan menjawab Mau!
Lain dengan calon ayah yang satu ini, ia bahkan lebih risau dari istrinya, ia selalu mengingatkan,"Bila susah melahirkan, operasi caesar saja!"

Tapi istrinya yang masih muda itu bersikeras untuk melahirkan secara alami, karena anak yang terlahir alami lebih sehat. Kemudian akhirnya istrinya melewati proses kelahiran yang penuh derita.
Akhirnya satu jam terlewati dan anaknya lahir ke dunia.

Seorang bayi perempuan, beratnya 3.700 gram, sangat sehat.
Berat normal rata-rata bayi yang baru lahir sekitar 3.100-3.300 gram. Bayi laki-laki lebih berat dari bayi perempuan. Bayi perempuan berat normalnya 3.200 gram.
Terlihat jelas bayi perempuan ini lebih besar dan lebih berat dari berat normal, ibu baru ini pasti merasakan sakit yang lebih dari biasanya.

Bidan itu pun membantu menimbang berat badan bayi, memakaikan baju dan memperlihatkannya pada keluarganya.
Kebanyakan ayahnya akan berbahagia melihat bayi mereka dan bertanya-tanya ,
"Laki-laki atau perempuan?"
"Beratnya berapa?"
"Sehat tidak?"
Tapi ayah baru ini menggendong bayinya kemudian mengerutkan kening. Lalu ia menangis tersedu-sedu sedih.
Apakah karena bayi yang lahir perempuan? Batinku. Atau karena anak pertama kemudian terharu? Tapi dia kelihatannya bukan nangis terharu. Dia lebih seperti menangis sedih.
Sponsored Ad
Saat aku terbingung-bingung, akhirnya ia mengatakan kata-kata yang membuatku merinding terharu. "Bayi ini begitu berat, pasti istriku sakit sekali saat melahirkannya."
Kebanyakan ayah-ayah baru senang sekali melihat bayi pertama mereka, mereka lupa sama sekali dengan jasa ibu-ibu yang telah melahirkan. Atau mungkin mereka sudah sibuk memfotoi bayi mereka sampai melupai istri mereka yang masih terbaring kaget dari kesakitan melahirkan.
Kasih sayang dari suami ini kepada istrinya begitu mengharukan, betapa beruntung dan bahagianya sang istri. Ia bukannya sibuk dengan bayinya, tapi malah mengkhawatirkan istrinya yang telah berkorban melahirkan.
Walaupun suami tidak bisa merasakan seberapa sakitnya melahirkan, namun hatinya ikut merasakan dan tidak tega istrinya menderita.
Suami ini tak peduli ia kaya ataupun miskin, romantis atau tidak itu semuanya tidak penting.
Yang paling penting adalah suami yang bisa menghargai perjuangan dan pengorbanan istri. Menikah dan melahirkan anak bagi perempuan juga merupakan hal yang umum, tapi bisa mempunyai suami yang menghargai perjuangan istri, itu suami yang baik dan pangkal dari kebahagiaan dalam pernikahan.
Sumber: lookforward