Wanita mana yang tak terluka melihat suaminya mendua dan punya anak dari wanita lain. Seorang ibu rela bertahan dengan suami yang telah menikah siri dengan wanita lain. Rahasia terbongkar saat Ibu menemukan akta seorang anak yang ternyata adalah anak dari hasil pernikahan siri suami dan wanita lain.




“Mereka tak punya sifat empati, Nak. Apalagi sekadar perasaan haru terhadap sesama, dalam menjalani hidup mereka selalu ingin yang instan, tak perlu kerja keras, cukup menjadi “lebah penghisap madu” dari pria yang sudah mapan, tak peduli ia sudah beristri atau tidak, yang penting segala fasilitas mewah nan royal ia dapatkan!” Itulah kata-kata yang dilontarkan ibu nya pada sang anak dengan emosi yang memuncak

5 tahun berlalu, saat itu, sang Ibu ingin sekali bercerai dengan ayahnya. Namun, di saat yang bersamaan, anaknya berkata bahwa ada seorang laki-laki yang ingin mempersuntingnya. Ibu tak berkata apa-apa, dia hanya menatap anaknya data “Ibu ikut bahagia, Nak. Maafkan ibu, tadi ibu tidak sungguh-sungguh berkata ingin bercerai dari ayahmu.”

Pernikahan pun digelar dan berlangsung dengan bahagia dan lancar. Anaknya harus ikut suaminya ke Riau dan meninggalkan Ibunya sendirian di Bandung. Walaupun berat melepas kepergian anaknya.

Kini ia harus berjauhan dengan anaknya, sampai suatu malam Ibu mengirimkan sebuah pesan menusuk hati dan jantung anaknya.



Pesan tersebut berisi sebuah surat gugatan cerai dirinya kepada suaminya yang telah mendua.


“Mengapa Ibu membuat surat gugatan cerai itu? Bu, usiamu sudah tak muda lagi, mengapa engkau memilih untuk berpisah setelah sekian ribu jam engkau bertahan? Mengapa, Bu, mengapa?” Tanyanya

“Anakku yang sangat aku sayangi, ibumu ini memang sudah tidak muda lagi, motivasi hidup ibumu bukan sekadar materi berlimpah dari ayahmu, tetapi perlu engkau tahu, Nak selama ini ibu bertahan untukmu.

Saat itu ibu khawatir kalau ibu bercerai dengan ayahmu, engkau akan hancur dan rapuh karena saat itu engkau sedang ujian sekolah. Selama ini ibu bertahan untuk berbakti dalam cinta meski telah terluka.

Tetapi, Ibu masih punya harga diri dan berhak bahagia. Sekarang Ibu tak khawatir lagi, karena engkau telah memiliki suami yang baik yang akan selalu menjagamu.”

Ternyata selama ini Ibu hidup dalam derita namun ibu tetap tegar dan kuat. Harapan agar keajaiban terjadi pada ayahnya kini pupus sudah. Ibu melakukannya demi sang anak agar bisa menikah untuk menjadi wali. Kini, anaknya telah bahagia, hingga mungkin tak memerlukan figur ayah. Terima kasih Ibu..