Suatu hari, seorang pengemis mengumpul seluruh barangnya untuk pergi dan mencari tempat tinggal yang baru.

Saat sedang berjalan menuju entah ke mana, pengemis itu menginjak sesuatu. Matanya pun segera tertuju ke tanah, ternyata ada sebuah dompet.

Ia melihat ke sekeliling, ternyata tidak ada siapa-siapa. Entah siapa yang menjatuhkan dompetnya. Ia pun mengambil dompet itu dan membukanya. Isinya ada sejumlah uang, beberapa kartu bank dan kartu identitas seseorang.

Pengemis itu melihat sekeliling sekali lagi dan melihat dompet itu. Ia pun duduk di tempat ia menemukan dompet tersebut. Ia pun berpikir untuk menunggu sang pemilik.

Siapapun yang kehilangan barang berharga pasti akan merasa sangat panik. Walau dirinya hanyalah seorang pengemis, ia mempunyai prinsip sendiri dan ingin segera mengembalikan dompet tersebut kepada sang pemilik.




Tanpa sadar, hari sudah malam. Pengemis sudah menunggu seharian tapi pemiliknya masih saja belum muncul. Pengemis itu memutuskan untuk menunggu beberapa hari lagi, ia pun beristirahat di taman sebelah.

Sampai hari ketiga, ia melihat seorang pria dari kejauhan. Matanya terus menatap ke tanah. Ia melihat ke sang pengemis dan bertanya dengan nada sombong, "eh tukang minta-minta, ada lihat dompet jatuh gak dua hari yang lalu?"

Pengemis mengerutkan kening, ia merasa tidak senang dengan perilaku pria tersebut. "Ngomong siapa yang ambil! Kalau ketemu aku kasih 20.000 rupiah." Pria itu menatap si pengemis dengan cemas.



Pengemis belum sempat berbicara, pria ini sudah menuduh bahwa dompetnya diambil sang pengemis. "Buruan ngomong! Entar masih ada urusan, kalau balikin ku kasih 50.000 rupiah deh."

Awalnya, pengemis itu tidak merasa kesal, tapi sampai disini ia merasa marah. Bukannya salah pengemis kok. Mentang-mentang pakai baju rapi jadi ngerasa dirinya lebih tinggi? Tapi kalau mulutnya busuk, apakah ada artinya?


Pengemis pun memutuskan untuk memberi sebuah pelajaran kepada pria yang tidak sopan ini. "Aku tahu siapa yang mengambil dompetmu, aku juga tahu dimana. Aku bisa kasih tahu kamu, tapi kamu harus berlutut dan minta maaf. Tadi kamu marahi aku, aku merasa tidak senang dan bisa memilih untuk tidak memberitahu kamu."

Pada saat ini, banyak orang yang mulai berhenti dan melihat kejadian antara pengemis dan sang pria.



Pria itu mulai mengepalkan tangan tapi tidak berani memukul si pengemis. Pria itu tampak terburu-buru ingin menemukan dompetnya.

Untuk memastikan si pengemis tidak hanya mempermainkannya, sang pria pun bertanya, "ada bukti apa kamu?"

Sang pengemis segera menyebutkan nama pria itu. "Aku melihat KTPmu."

Pria itu langsung segera meminta maaf dan berlutut. Ia berkata bahwa ia kesal karena sedang terburu-buru. Pria itu langsung merasa menyesal atas perbuatannya.

Orang-orang di sekitar mulai bertepuk tangan dan memuji bahwa hal yang dilakukan pengemis itu benar.


Pengemis pun memberi dompet kepada pria tersebut dan berkata, "Membuatmu berlutut sama sekali tidak keterlaluan. Aku disini menunggumu selama 3 hari, aku hanya ingin mengembalikan dompet ini kepadamu. Eh, kamu malah datang-datang marahin aku."



Segera, sang pengemis mengemas barangnya dan pergi meninggalkan tempat itu.

Pria itu merasa malu dan tidak dapat berkata apa-apa.

Tidak perlu merendahkan orang lain, meski menurut kamu orang tersebut buruk sekalipun. Jangan pernah menjelek-jelekkan orang lain sekalipun orang tersebut memang buruk dan tidak baik.

Karena kamu tidak akan terangkat menjadi mulia dengan menjelek-jelekkan orang lain. Kamu juga tidak akan menjadi hebat saat kamu merendahkan orang lain. Jadi untuk apa susah payah menjelek-jelekkan orang lain dan ingin merendahkan orang lain.

Jangan lupa untuk SHARE cerita ini kepada teman-temanmu yah!

Sumber: Beauty