Suatu hari saat sedang makan malam, ibuku bertanya, "kamu mau cuci piring apa beresin kebun?" Aku dengan sengaja bertanya balik padanya, "kenapa ibu tidak pernah membiarkanku yang membuat pilihan?" Ibuku langsung terdiam.




Aku ingat saat awal masuk sekolah dulu, keluarga kami sudah menetapkan aturan. Aku dan adikku tiap hari bergiliran mencuci piring. Sampai suatu hari giliran adikku yang mencuci piring, dia tidak ingin mencucinya. Akhirnya, ayahku berkata, "kamu sebagai kakak dan seorang perempuan, jangan terlalu mempersalahkannya. Kamu mengerjakan pekerjaan rumah adalah sebuah keharusan." Sejak saat itu, adikku semakin menolak melakukan pekerjaan rumah. Kata-kata ayahku sudah sangat menusuk hatiku. Sebagai seorang kakak menjaga adik adalah hal yang bisa dimengerti. Tapi, kalau karena saya perempuan dan dia laki-laki dan dalam hal mengerjakan pekerjaan rumah, ini adalah diskriminasi gender.

Pekerjaan rumah bukan hanya tanggung jawab seorang wanita tapi juga pria.

Beberapa waktu lalu, saat Momo sedang dengan suami keluar bersama, mereka bertengkar lagi. Hanya karena suaminya tidak pernah berinisiatif membantu pekerjaan rumah tangga. Setiap pulang kerja, Momo selalu memasak untuk suaminya. Dan hari itu dia sedang kelelahan. Ia menyuruh suaminya untuk bersih-bersih rumah. Tapi, suaminya malah berkata dia adalah laki-laki dan tidak bisa melakukan itu. Setelah itu suaminya main game.



Momo pun menangis. Suaminya selalu berkata padanya bahwa pekerjaan ia sangat berat, tapi demi kelangsungan hidup mereka berdua, tidak bisa hanya mengandalkan satu orang. Jadi Momo juga ikut bekerja. Mendengar hal ini, Momo langsung marah. Ia merasa suaminya tak perlu berkata seperti itu karena ia sendiri tentu akan bekerja keras. Tapi, kenapa suaminya meminta ia untuk ikut bekerja keras menghasilkan uang, tapi ia tidak bersedia membantunya melakukan pekerjaan rumah?

Untuk pria, janganlah hanya mau bekerja dan menolak untuk mengurus anak

Satu lagi sepasang suami istri yang baru saja melahirkan dua orang anak. Setiap kali ingin janjian ketemu sama orang, pasti ada banyak masalah. Pertama, karena tidak ada yang menjaga anak. Beberapa bertanya, "tidak bisakah suamimu yang menjaganya?" Istri berkata, "yah, dia tidak bisa menjaga anak. Sebagian besar pria hanya ingin bersenang-senang setelah punya anak. Kasih dia jaga, aku juga tidak tenang."



Jadi, semenjak punya anak, kita jadi sulit bertemu dengan teman-teman. Tapi, suami selalu punya banyak acara. Pria selalu beralasan "tidak bisa", "tidak sabar", "mau bekerja" dan alasan lainnya untuk menolak mengurus anak. Dan istri juga tidak berdaya untuk menerima walaupun diri sendiri bukan pertama kalinya belajar mengasuh anak.

Jadi, pekerjaan rumah hanyalah tugas wanita?

Berdasarkan hasil survey Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) terhadap 29 pria dari berbagai negara tentang pembagian waktu untuk mengurus pekerjaan rumah, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang dan India adalah negara yang dimana pria paling sedikit membantu wanita melakukan pekerjaan rumah tangga.

Alasannya berasal dari pembagian kerja antara pria dan wanita yang masih menerapkan nilai tradisional



Kita selalu berpikiran sejarah sangat jauh dari kita, tapi sejarah memiliki dampak yang besar untuk kita. Kita selalu berpikir bahwa budaya selalu berkembang dari masa ke masa, tapi tidak kita sadari bahwa orang-orang masih tinggal sesuai nilai masa lalu. Kita selalu berpikir bahwa pembagian kerja sesuai dengan kodrat wanita dan pria, tapi tanpa kita sadari kita sudah terjebak dalam diskriminasi gender.



Pria membajak dan wanita menenun adalah pembagian pekerjaan dalam sistem masyarakat kuno. Perekonomian petani kecil dalam masyarakat feodal ini seperti bisnis keluarga, pria bertani dan wanita bertenun telah membentuk pembagian pekerjaan yang primitif. Pembagian pekerjaan seperti ini ditentukan oleh kondisi ekonomi dan pola sosial yang berlaku. Tapi, sekarang kita tidak lagi bisa mengandalkan tanah subur untuk hidup. Pria bukan lagi produktivitas utama masyarakat, peranan wanita dalam konstruksi sosial juga sangat penting. Dan bahkan bisa sebanding dengan pria. Wanita bisa menjadi eksekutif perusahaan, pemilik usaha sendiri dan bahkan bisa jadi pemimpin senior dalam sebuah pemerintahan. Apabila status perempuan sudah mengalami perubahan di masyarakat ini, tentu tidak masuk akal untuk kita masih menerapkan pembagian pekerjaan rumah sesuai metode masa lalu.

Dengan 3 sudut pandang ini, kita bisa melihat masalah rumah tangga ini dengan benar!

1. Pahami kerja keras wanita

Jangan menuduh dan bertindak sewenang-wenang. Seiring berkembangnya zaman, sudah tidak ada lagi aturan-aturan tentang pembagian pekerjaan lagi. Wanita boleh tidak peduli dengan siapa yang harus menyelesaikan pekerjaan rumah, tapi pria harus bisa menghormati pengorbanan wanita terlebih dahulu. Kamu harus tahu, wanitamu di rumah diam-diam berkorban untukmu. Tanpa cinta, kamu bukanlah apa apa.

2. Pembagian kerja yang masuk akal untuk berbagi pekerjaan rumah tangga juga adalah salah satu bentuk tanggung jawab dari seorang pria.

Banyak pria menganggap pekerjaan rumah adalah pekerjaan yang mudah. Pria bertugas menafkahi keluarga dan wanita mengurus rumah. Dengan begitu, sendirinya berpikir wanita tidak perlu terlalu bahagia. Tapi, ia tidak tahu bahwa ini sebenarnya adalah sebuah lubang. Keluarga adalah organisasi sosial yang terdiri dari individu. Tentu saja pria memiliki tanggung jawab untuk berbagi, menjaga keluarga melakukan segala pekerjaan. Jadi, pembagian pekerjaan yang masuk akal juga adalah bentuk tanggung jawab seorang pria terhadap keluarganya.

3. Tolong jangan menerapkan pandangan pada anak perempuan anda bahwa wanita harus melakukan pekerjaan rumah tangga.

Jangan bersikap tidak adil pada anak-anak kamu. Karena hal ini bisa mengubah perilaku anak saat dewasa nanti. Berikan pekerjaan yang tepat untuk anak sesuai usianya karena hal ini penting untuk membangun rasa tanggung jawab dalam diri mereka. Tidak peduli laki-laki maupun perempuan.

Pria yang bisa berbagi pekerjaan rumah tangga bisa membuat hidupnya lebih lama.

Mengapa? Karena dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga bisa membuat kamu lebih dicintai pasangan. Hal ini juga bisa membuat suasana keluarga menjadi lebih harmonis. Dan pria yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah itu lebih sering menghabiskan waktu luang untuk di sofa atau di depan komputer, televisi dan hal lainnya. Menurut penelitian dari Australia, pria seringkali memiliki hobi yang kurang sehat. Dengan melakukan pekerjaan rumah, kamu bisa terhindar dari segala penyakit. Jadi, tunggu apalagi? Yuk, ambil sapu dan bantu istri bereskan rumah!

Sumber: cmoney