Kakek Louis sudah berusia 70 tahun, ia mempunyai satu anak laki-laki dan satu anak perempuan, masing-masing sudah menikah. Dulunya, hubungan Louis dengan anak-anaknya sangat akur, namun karena umur Louis yang sudah tua, ia semakin tidak sabaran dan gampang marah. Yah, namanya sudah tua, mau bagaimana lagi.

Anak laki-laki Louis, Ben, bekerja di sebuah pabrik, gajinya tidak tinggi. Ben mempunyai seorang anak laki-laki yang sekarang sedang kuliah. Hidup Ben sangat irit karena masih harus membiayai biaya kuliah anaknya, sehingga Ben jarang libur dan berkunjung ke rumah Louis jika ada waktu saja.



Kondisi anak perempuannya, Bonnie, juga tidak seberapa bagus. Bonnie mempunyai dua anak dan mertua yang lumpuh.

Suatu hari, keluarga Ben dan Bonnie datang menjenguk sang ayah. Awalnya, mereka terlihat akur dan tertawa, berbicara tentang hal-hal yang menyenangkan. Tapi entah salah dimana, Louis mulai kehilangan kesabaran. Ben berusaha menenangkannya, namun Louis malah menampar muka anaknya dan berkata, "Jangan pura-pura jadi orang baik."



Ben terlihat kaget dan bingung. Kok ayahnya tiba-tiba memukulku? Salah apa aku? Melihat atmosfir berubah menjadi buruk, Bonnie pun berusaha meredakan amarah ayahnya. Siapa sangka Louis malah berkata, "Kamu juga bukan orang yang baik. Semua pergi, jangan datang ke rumahku lagi!". Ben dan Bonnie pergi dengan perasaan kesal, niatnya baik kok malah jadi begini?

Sebulan kemudian, Ben dan Bonnie datang lagi. Siapa tahu waktu itu ayahnya lagi bad mood. Namun, Louis lagi-lagi dengan kejam mengusir kedua anaknya, bahkan mengancam untuk memotong hubungan. Katanya, mereka adalah anak yang tidak berbakti.

Kali ini, Ben dan Bonnie bersumpah untuk tidak akan datang lagi ke rumah ayahnya. Tetangga juga berkata bahwa Louis tidak mengerti untuk bersyukur, ada yang datang bukannya senang malah diusir. Kalau anak-anaknya gak pernah datang lagi memang salahnya dia, biar tahu rasa.


Tidak terasa, setengah tahun telah berlalu, anak-anak Louis sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Mereka menerima telepon dari kepala desa, katanya sang ayah sudah meninggal. Ben dan Bonnie tidak percaya dengan kata-kata yang mereka dengar. Masa ayahnya yang tangguh pergi begitu saja?



Ketika sampai, Louis sudah ditutup dengan kain putih. Orang yang sudah meninggal tidak dapat hidup lagi. Kedua anak Louis pun segera mempersiapkan pemakaman ayahnya. Saat sedang membereskan barang dirumah Louis, Ben menemukan sebuah kotak yang menarik perhatiannya. Isinya hanyalah sebuah kertas dengan tulisan tangan Louis.

"Aku tahu hidupku tidak akan lama lagi. Aku tahu badanku sudah tidak kuat lagi. Aku memikirkan kalian berdua. Aku tahu ekonomi kalian tidak baik, tapi jika aku mengatakan penyakitku, kalian pasti akan berusaha untuk memberikanku perawatan medis. Segala itu hanya akan menguras uang kalian. Suatu hari, aku pasti akan pergi juga. Oleh karena itu, aku menjadi orang yang menjengkelkan, memukul dan mengutuk anak. Sebenarnya semua ini kulakukan supaya kalian tidak tahu.

Aku tidak ingin merepotkan kalian, anakku yang baik. Ayah pergi yah, jangan sedih. Setiap orang pasti akan menghadapi hari seperti ini. Jika kamu hidup dengan baik, aku akan tenang disini."

Ben dan Bonnie segera menangis dan menyesal, "maafkan kami, ayah sakit tidak ada yang tahu. Kami benar-benar anak yang tidak berbakti."



Cerita Louis segera menyebar, tidak ada orang yang tidak meneteskan air mata setelah membaca surat tulisan Louis. Ternyata inilah mengapa Louis menjadi seorang yang tidak sabaran dan pemarah. Banyak yang memujinya bahwa ialah ayah yang tegar dan hebat.

Bagaimana menurutmu Sobat Cerpen? Jangan lupa untuk SHARE dan LIKE artikel ini yah!

Sumber: Happylady