Belakangan, karena desakan orangtuanya, Johan dan Rina pun membeli rumah bersama dan mulai mempersiapkan pernikahan mereka.
Akhirnya, Johan dan Rina melangsungkan pernikahan, tetapi Rina merasa tidak bahagia karena sejak kecil dimanjakan orangtuanya, sehingga dia tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Sementara itu, Johan suaminya justru selau menyuruhnya membereskan pekerjaan rumah setiap saat pulang kerja..Jika tidak bisa memasak, Johan menyuruhnya mencuci pakaian.
Karena sikap Johan seperti itu, Rina pun berkeluh kesah dengan para seniornya di kantor. Namun, rekan-rekan kantornya justru bilang bahwa Rina memang harus belajar mengurus pekerjaan rumah tangga, itu baru bisa memancarkan aroma seorang wanita.
Belakangan, Rina hamil, namun, badannya yang sudah terbebani janin, masih juga harus mencuci pakaian sebanyak itu setiap hari, sehingga dia merasa sangat tersiksa.
Hingga kemudian, karena merasa tidak nyaman secara fisik, akhirnya Rina rawat inap di rumah sakit sambil menunggu persalinan.
Awalnya Rina merasa sangat bahagia menanti kelahiran buah hati, tetapi dia tidak bisa makan apa-apa setelah pulang dari rumah sakit.
Meski bisa makan sekali pun juga akan dimuntahkan lagi, Suatu malam tiba-tiba Rina merasa sakit perut sampai-sampai tidak bisa berdiri.
Malam itu juga Johan membawanya ke rumah sakit dan didiagnosis menderita pankreatitis akut. Dia harus berbaring selama 24 jam penuh di atas ranjang, dan harus dibantu orang lain untuk makan-minum dan buang air.
Tengah malam itu Rina menangis sesenggukan, karena orangtuanya pernah berkata : ” Suami istri bagai burung serimba, terbang sendiri apabila ajal menjemput – suami-istri juga akan berpisah apabila tiba waktunya.”
Rina merasa Johan pasti akan meninggalkannya apabila dia jatuh sakit.
Belakangan, karena terkait dengan pengobatannya, ekskresi Rina semakin tidak terkendali, hingga harus bergantung pada Johan untuk mengurusnya, dan tanpa banyak tanya lagi Johan segera mengajukan cuti untuk merawat dan mengurus keseharian istrinya, sampai sehat kembali.
Reka-rekan kantor Rina pun merasa iri Rina mendapatkan suami yang sangat baik dan perhatian.
Belakangan, Rina baru sadar bahwa sebelumnya ia telah salah menilai Johan suaminya.
Sesama suami-istri seharusnya saling melengkapi, dan berkorban satu sama lain, mencari solusi untuk memecahkan masalah bersama, bukan berkeluh kesah dan menggerutu sepanjang hari.
Dan benar saja, “Tidak ada perkawinan yang buruk, yang ada hanya komunikasi yang buruk.”
Saya yakin hubungan suami-istri Johan dan Rina pasti akan semakin harmonis dan mesra di hari-hari mendatang.